Thursday, 26 July 2012

Taman Pendidikan Al Qur'an


TAMAN AL-QUR’AN

            Semilir angin sore ini menghempaskan hawa panas yang mencekam di siang tadi. Memberikan sesnsasi kesejukan yang luar biasa. Pantulan cahaya matahari nan elok terlihat di persawahan. Sinarnya yang kokoh mengenai pohon-pohon tinggi di sepanjang jalan. Menembus sela-sela dedaunan hingga terbiskan indah bagai sorot-sorot lampu penerang jalanan.
            Masih ku gayuh sepedaku menuju masjid di ujung jalan. Sepeda ala perempuan dengan keranjang dan tempat boncengan yang begitu lekat dengan ku. Sepeda merah muda yang selalu membawaku kemanapun aku mau. Inilah indahnya jogja yang warganya tak pernah gengsi pergi kemanapun dengan bersepeda. Tidak seperti tempat-tempat lain yang mulai dipadati kendaraan bermotor dimana-mana. Bahkan kota Jogja mempunyai slogan “SEGO SEGAWE” yaitu bersepeda untuk sekolah dan bersepeda untuk pergi kerja. Indah bukan?
            Sayup-sayup terdengar lagu anak-anak ala islami dari tempatku berada. Semakin dekat, dan semakin terdengar. Memang seperti itulah kebiasaan sebelum TPQ dimulai. Lagu yang diputar dari speaker masjid tersebut menjadi pemanggil bagi santri-santri untuk segera ke masjid. Pernah suatu ketika speaker mati, dan hanya ada satu dua santri yang datang ke TPQ, sungguh menggelikan.
            Tak lama, aku sampai di pelataran masjid. Di sinilah tempat membangun generasi Rabbani. Mereka dididik untuk mengenal Tuhan mereka. Juga mengenal agama dan  tiang-tiang penyangganya. Tempat ini bukanlah sebuah tempat yang megah dengan full fasilitas. Cukup bertempatkan sebuah masjid rumah Allah dan beberapa orang ustad atau ustdzah, taman ini berdiri.
            Belakangan, aku mempunyai waktu luang. Aku tertarik dengan tawaran temanku untuk mengajar di sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an atau akrab disebut TPQ. Awalnya ada sedikit rasa ketertarikan dalam benakku. Aku ingin mengisi waktu lungku dengan sesuatu yang bermanfaat. Aku pun menjadi ustadzah dengan sedikit bekal pengetahuan agama yang aku punya.
            Ada kehngatan yang berdesir dalam jiwa ini. ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di tempat itu. Sebuah pengalaman berbeda akan mulai ku ukir detik itu juga. Wajah-wajah lucu nan menggemaskan. Sambutan hangat yang membuatku langsung merasa nyaman.
            Suara-suara kecil mereka, benar-benar menggemaskan. Aku terharu ketika melihat antusias mereka mempelajari satu demi satu, huruf-huruf arab itu. Sebuah pintu yang mulai merka bangun sebagai pnitu gerbang untuk mengkaji ayat-ayat semesta. Merekalah calon-calon generasi penerus yang akan meneruskan estafet dakwah agama yang begitu indah ini. Aku terbayang dengan kerusakan demi kerusakan moral yang kian marak terjadi di bumi pertiwi ini. tak terhitung berapa jumlahnya pemberitaan di media masa. Semoga anak-anak inilah yang akan meneruskan perjuangan untuk memperbaikinya.