TAMAN AL-QUR’AN
Semilir
angin sore ini menghempaskan hawa panas yang mencekam di siang tadi. Memberikan
sesnsasi kesejukan yang luar biasa. Pantulan cahaya matahari nan elok terlihat
di persawahan. Sinarnya yang kokoh mengenai pohon-pohon tinggi di sepanjang
jalan. Menembus sela-sela dedaunan hingga terbiskan indah bagai sorot-sorot
lampu penerang jalanan.
Masih
ku gayuh sepedaku menuju masjid di ujung jalan. Sepeda ala perempuan dengan
keranjang dan tempat boncengan yang begitu lekat dengan ku. Sepeda merah muda
yang selalu membawaku kemanapun aku mau. Inilah indahnya jogja yang warganya
tak pernah gengsi pergi kemanapun dengan bersepeda. Tidak seperti tempat-tempat
lain yang mulai dipadati kendaraan bermotor dimana-mana. Bahkan kota Jogja
mempunyai slogan “SEGO SEGAWE” yaitu bersepeda untuk sekolah dan bersepeda
untuk pergi kerja. Indah bukan?
Sayup-sayup
terdengar lagu anak-anak ala islami dari tempatku berada. Semakin dekat, dan
semakin terdengar. Memang seperti itulah kebiasaan sebelum TPQ dimulai. Lagu
yang diputar dari speaker masjid tersebut menjadi pemanggil bagi santri-santri
untuk segera ke masjid. Pernah suatu ketika speaker mati, dan hanya ada satu
dua santri yang datang ke TPQ, sungguh menggelikan.
Tak
lama, aku sampai di pelataran masjid. Di sinilah tempat membangun generasi
Rabbani. Mereka dididik untuk mengenal Tuhan mereka. Juga mengenal agama
dan tiang-tiang penyangganya. Tempat ini
bukanlah sebuah tempat yang megah dengan full fasilitas. Cukup bertempatkan sebuah
masjid rumah Allah dan beberapa orang ustad atau ustdzah, taman ini berdiri.
Belakangan, aku mempunyai waktu
luang. Aku tertarik dengan tawaran temanku untuk mengajar di sebuah Taman
Pendidikan Al-Qur’an atau akrab disebut TPQ. Awalnya ada sedikit rasa
ketertarikan dalam benakku. Aku ingin mengisi waktu lungku dengan sesuatu yang
bermanfaat. Aku pun menjadi ustadzah dengan sedikit bekal pengetahuan agama
yang aku punya.
Ada kehngatan yang berdesir dalam
jiwa ini. ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di tempat itu. Sebuah
pengalaman berbeda akan mulai ku ukir detik itu juga. Wajah-wajah lucu nan
menggemaskan. Sambutan hangat yang membuatku langsung merasa nyaman.
Suara-suara kecil mereka,
benar-benar menggemaskan. Aku terharu ketika melihat antusias mereka
mempelajari satu demi satu, huruf-huruf arab itu. Sebuah pintu yang mulai merka
bangun sebagai pnitu gerbang untuk mengkaji ayat-ayat semesta. Merekalah
calon-calon generasi penerus yang akan meneruskan estafet dakwah agama yang
begitu indah ini. Aku terbayang dengan kerusakan demi kerusakan moral yang kian
marak terjadi di bumi pertiwi ini. tak terhitung berapa jumlahnya pemberitaan
di media masa. Semoga anak-anak inilah yang akan meneruskan perjuangan untuk
memperbaikinya.